Pengertian, Sejarah dan Tujuan Tarekat

Tarekat merupakan sebuah jalan untuk mencapai keimanan pada Tuhan. Dalam ilmu tasawuf penjelasan ini disebut demikian syariat itu merupakan peraturan, tarekat itu merupakan pelaksanaan, hakekat itu merupakan keadaan, sedang ma’rifat itu adalah tujuan. Untuk mencapai keimanan yang penuh pada diri seseorang perlu ada bimbingan – bimbingan khusus terutama dalam menjalankan ibadah. Seorang manusia harus benar – benar manjaga pikirannya, hatinya, dan segala tindak tanduknya dalam kehidupan. 

Tarekat merupakan sebuah jalan, yang didalamnya terdapat dzikir – dzikir khusus dengan tujuan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Tarekat sering disebutkan bersama dengan syari’at, yaitu syari’at, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Pengalaman mistik tidak akan didapat apabila perintah syari’at yang terikat tidak ditaati terlebih dahulu.

Pengertian Tarekat

Asal  kata “tarekat” dalam bahsa Arab ialah “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu. Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. 

Tidak mungkin ada anak jalan tanpa ada jalan utama tempat berpangkal. Pengalaman mistik tidak mungkin didapat bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati terlebih dahulu dengan seksama.  Menurut Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:
 اَلطَّرِيْقَةُ هِيَ ا لْعَمَلُ بِالشَّرِ يْعَةِ وَالْاَخْذُ بِعَزَائِمِهَا وَالْبُعْدُ عَنِ التَّسَاهُلِ فِيْمَا لاَ يَنْبَغِيْ التَّسَاهُلُ فِيْهِ.
Artinya:
“Tariqat adalah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah”

اَلطَّرِيْقَةُ هِيَ اِجْتِبَابُ الْمَنْهِيَاتِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَامْتِثَالُ الْاَ وَامِرِ الْاِلَهِيَةَ بِقَدْرِ الطَّاقَةِ
Artinya:
“Tariqat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya, baik larangan yang nyata maupun yang  tidak  (batin).” 
 
 ا لطريقة هي اجتناب امحرمات والمكروهات وفضول المباحات واداء الفرائض فما استطاع من النوافل تحت رعاية عارف من اهل النهاية
Artinya:
“Tariqat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadilah, menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang arif (Syekh) dan (Sufi) yang mencita-citakan suatu tujuan.”

Jadi tarekat adalah jalan yang ditempuh oleh seorang salik agar bisa mengenal Allah lebih dekat dengan menjalankan kewajiban, menjauhi larangan, melakukan sunnah sesuai dengan kemampuai serta menambah amalan dengan dzikir khusus yang dibimbing oleh Syaikh.

Sejarah Timbulnya Tariqat

Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tariqat mana yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui  dengan pasti, namun De Kamil Musthafa Asy-Syibi dalam tasisnya mengungkapkan tokoh pertama yang memperkenalkan sistem tariqat syaih Abdul Qasir al-Zailani (561 M/1166 H) di Bagdag, Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i di Mesir dengan tariqat Rifa’iyyaah, dan Jalal ad-Din ar-Rumi (672 H-1273 M) di Parsi. 

Harun Nasution menyatakan bahwa setelah al-Ghazali memenghalalkan tasawuf yang sebelumnya yang dikatakan sesat, tasawuf berkembang didunia Islam, melalui tarikat. Tariqat adalah organisasi dari pengikut-pengikut sufi besar, yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya, tariqat memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat, ini merupakan tempat murid-murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya. 

Pada awal kemunculannya, tariqat berkembang dari dua daerah yaitu, Khusaran (Iran) dan Mesopotamia (Irak) pada periode ini mulai timbul beberapa diantara tariqat Yasafiyah yang didirikan oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani.  (617 H/1220 M) tariqat Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhamad Badauddin an-Naqsabandi al-Awisi al-Bukhari (1389 M) di Turkistan, tariqat Khalwatiyah yang didirikan oleh  Umar al-Khalwati (1397 M). 

Pada awalnya, tarekat merupakan bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu. Misalnya, Rasulullah mengajarkan wirid atau zikir yang perlu diamalkan oleh Ali ibn Abi Thalib. Atau, Nabi saw. memerintahkan kepada sahabat A untuk banyak mengulang-ulang kalimat tahlil dan tahmid. Pada sahabat B, Rasulullah memerintahkan untuk banyak membaca ayat tertentu dari surat dalam Alquran. Ajaran-ajaran khusus Rasulullah itu disampaikan sesuai dengan kebutuhan penerimanya, terutama berkaitan dengan faktor psikologis. 

Pada abad pertama Hijriyah mulai ada perbincangan tentang teologi, dilanjutkan mulai ada formulasi syariah. Abad kedua Hijriyah mulai muncul tasawuf. Tasawuf terus berkembang dan meluas dan mulai terkena pengaruh luar. Salah satu pengaruh luar adalah filsafat, baik filsafat Yunani, India, maupun Persia. Muncullah sesudah abad ke-2 Hijriyah golongan sufi yang mengamalkan amalan-amalan dengan tujuan kesucian jiwa untuk taqarrub kepada Allah. 

Para sufi kemudian membedakan pengertian-pengertian syariat, thariqat, haqiqat, dan makrifat. Menurut mereka syariah itu untuk memperbaiki amalan-amalan lahir, thariqat untuk memperbaiki amalan-amalan batn (hati), haqiqat untuk mengamalkan segala rahasia yang gaib, sedangkan makrifat adalah tujuan akhir yaitu mengenal hakikat Allah baik zat, sifat maupun perbuatanNya. Orang yang telah sampai ke tingkat makrifat dinamakan wali. Kemampuan luar biasa yang dimilikinya disebut karamat atau supranatural, sehingga dapat terjadi pada dirinya hal-hal yang luar biasa yang tidak terjangkau oleh akal, baik di masa hidup maupun sudah meninggal. Syaikh Abdul Qadir Jaelani (471-561 H/1078-1168 M) menurut pandangan sufi adalah wali tertinggi disebut quthub al-auliya (wali quthub).  

Pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi barulah muncul tarekat sebagai kelanjutan kegiatan kaum sufi sebelumnya. Hal ini ditandai dengan setiap silsilah tarekat selalu dihubungkan dengan nama pendiri atau tokoh-tokoh sufi yang lahir pada abad itu. Setiap tarekat mempunyai syaikh, kaifiyah zikir dan upacara ritual masing-masing. Biasanya syaikh atau mursyid mengajar murid-muridnya di asrama latihan rohani yang dinamakan suluk atau ribath. 

Kehadiran tasawuf berikut lembaga-lembaga tarekatnya di Indonesia, sama tuanya dengan kehadiran Islam itu sendiri sebagai agama yang masuk di kawasan ini. Namun, tampaknya, dari sekian banyak tarekat yang ada di seluruh dunia, hanya ada beberapa tarekat yang bisa masuk dan berkembang di Indonesia. Hal itu dimungkinkan di antaranya karena faktor kemudahan sistem komunikasi dalam kegiatan transmisinya. Tarekat yang masuk ke Indonesia adalah tarekat yang populer di Makkah dan Madinah, dua kota yang saat itu menjadi pusat kegiatan dunia Islam. Faktor lain adalah karena tarekat-tarekat itu dibawa langung oleh tokoh-tokoh pengembangnya yang umumnya berasal dari Persia dan India. Kedua negara ini dikenal memiliki hubungan yang khas dengan komunitas Muslim pertama di Indonesia.

Tujuan Tarekat

Tujuan utama pendirian berbagai tarekat oleh para sufi adalah untuk membina dan mengarahkan seseorang agar bisa merasakan hakikat Tuhannya dalam kehidupan sehari-hari melalui perjalanan ibadah yang terarah dan sempurna. Dalam kegiatan semacam ini, biasanya seorang salik (penempuh dan pencari hakikat ketuhanan) akan diarahkan oleh tradisi-tradisi ritual khas yang terdapat dalam tarekat yang bersangkutan sebagai upaya pengembangan untuk bisa menyampaikan mereka ke wilayah hakikat atau makrifat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Setiap tarekat memiliki perbedaan dalam menentukan metode dan prinsip-prinsip pembinaannya. Meski demikian, tujuan utama setiap tarekat tetaplah sama, yakni mengharapkan Hakikat Yang Mutlak, Allah ‘Azza wa Jalla. Secara umum, tujuan utama setiap tarekat adalah penekanan pada kehidupan akhirat, yang merupakan titik akhir tujuan kehidupan manusia beragama. Sehingga, setiap aktivitas atau amal perbuatan selalu diperhitungkan, apakah dapat diterima atau tidak oleh Tuhan.

Muhammad Amin al-Kurdi menekankan pentingnya seseorang masuk ke dalam tarekat, agar bisa memperoleh kesempurnaan dalam beribadah kepada Tuhannya. Menurutnya, minimal ada tiga tujuan bagi seseorang yang memasuki dunia tarekat untuk menyempurnakan ibadah. Pertama, supaya “terbuka” terhadap sesuatu yang diimaninya, yakni Zat Allah SWT, baik mengenai sifat-sifat, keagungan maupun kesempurnaan-Nya, sehingga ia dapat mendekatkan diri kepada-Nya secara lebih dekat lagi, serta untuk mencapai hakikat dan kesempurnaan kenabian dan para sahabatnya. Kedua, untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat dan akhlak yang keji, kemudian menghiasinya dengan akhlak yang terpuji dan sifat-sifat yang diridhai (Allah) dan berpegang pada para pendahulu (shalihin) yang telah memiliki sifat-sifat itu. Ketiga, untuk menyempurnakan amal-amal syariat, yakni memudahkan beramal shalih  dan berbuat kebajikan tanpa menemukan kesulitan dan kesusahan dalam melaksanakannya.



0 Komentar

Jika ada link aplikasi yang tidak aktif / mati silahkan beritahu kami di kolom komentar.